Kisah Santo Yohanes Paulus II dan pengemis di Roma. (Media Sosial Spiritusvitae)
Poin Penting:
- Seorang tunawisma asal Polandia ternyata pernah menjadi imam dan rekan seminari Yohanes Paulus II.
- Paus meminta mantan imam tersebut mendengarkan pengakuan dosanya.
- Pertemuan itu menjadi titik balik hingga pria tersebut kembali menjalani pelayanan bagi kaum miskin.
HajarBICARA – Kisah tentang Santo Yohanes Paulus II kembali dikenang melalui peristiwa yang menggambarkan sikap rendah hati dan kepedulian terhadap seseorang yang hidup dalam keterpurukan.
Seorang tunawisma yang ditemuinya di Roma ternyata memiliki hubungan masa lalu dengan sang Paus karena pernah menjadi rekan di seminari ketika keduanya masih muda.
Pria tersebut diketahui berasal dari Polandia dan sebelumnya pernah menjalani kehidupan sebagai imam. Namun, berbagai persoalan yang dialaminya, termasuk depresi, membuatnya meninggalkan imamat hingga akhirnya hidup sebagai tunawisma di jalanan Roma.
Baca juga: Hemat Energi Bagian dari Agama? Ini Langkah PP Muhammadiyah
Kabar mengenai kondisi mantan rekan seminari itu sampai kepada Paus Yohanes Paulus II. Alih-alih mengabaikannya, Paus mengundangnya ke Vatikan untuk makan malam bersama.
Setelah makan malam berlangsung, Paus meminta para staf meninggalkan ruangan agar dapat berbicara secara pribadi dengan pria tersebut. Dalam kesempatan itu, Yohanes Paulus II kemudian meminta mantan imam tersebut untuk mendengarkan pengakuan dosanya.
Permintaan itu membuat pria tersebut terkejut dan emosional. Sambil menangis, ia menolak karena merasa dirinya sudah bukan seorang imam dan hanya seorang gelandangan.
Paus kemudian memberikan jawaban yang mengingatkan kembali pada martabat imamat yang pernah dijalani pria itu.
Baca juga: Ziarah Cammino Santa Maria Ekafalo-Lurasik Pecahkan Rekor MURI Aksi Lingkungan
“Sekali imam, engkau tetap imam selamanya, dan di hadapan Tuhan, siapa di antara kita yang bukan pengemis?”
Setelah menyampaikan kalimat tersebut, Paus Yohanes Paulus II berlutut di hadapan pria itu untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi.
Momen tersebut menjadi titik penting dalam pertemuan keduanya karena sang mantan imam kembali menyadari bahwa dirinya masih memiliki martabat dan peran dalam kehidupan rohani.
Baca juga: IRI Indonesia Gandeng Pemimpin Gereja Papua Barat Daya Dorong Isu Hutan Masuk Mimbar Khotbah
Keduanya kemudian saling bertukar posisi. Pria tersebut mendengarkan pengakuan dosa Paus, sebelum akhirnya Paus mendengarkan pengakuan dosa dirinya.
Pertemuan tersebut kemudian menjadi awal perubahan dalam kehidupan sang mantan imam. Status imamatnya diaktifkan kembali dan ia selanjutnya mendapat tugas pelayanan yang berkaitan dengan kaum miskin serta tunawisma di Roma.
Kisah tersebut menjadi gambaran mengenai makna belas kasih dalam kehidupan iman. Di hadapan Tuhan, kedudukan sosial dan keadaan hidup manusia tidak menjadi ukuran nilai seseorang. Setiap manusia tetap membutuhkan pengampunan, pertolongan, dan belas kasih Tuhan.
Santo Yohanes Paulus II, doakanlah kami.*
Sumber: Press Vatican
