Pelatihan "Mimbar Suci, Suara Hutan" di Sorong diikuti 61 pendeta dan pimpinan jemaat dari 74 klasis se-Papua Barat Daya.

Hening Parlan, Fasilitator Nasional IRI Indonesia, saat memberikan sambutan kepada 61 pendeta peserta Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan “Mimbar Suci, Suara Hutan” di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026). (Foto: dok. IRI Indonesia)

Spread the love

Poin Penting

  • Pelatihan “Mimbar Suci, Suara Hutan” di Sorong diikuti 61 pendeta dan pimpinan jemaat dari 74 klasis se-Papua Barat Daya.
  • Kegiatan ini bertujuan menghubungkan ayat Alkitab dengan persoalan nyata seperti deforestasi, industri ekstraktif, dan krisis iklim.
  • Pemimpin Gereja didorong menjadikan khotbah sebagai wadah advokasi moral untuk melindungi ruang hidup masyarakat Papua.

 

HajarBICARA – Pembelaan terhadap kelestarian hutan di Tanah Papua kini mulai digaungkan melalui mimbar-mimbar ibadah.

Langkah ini digagas oleh Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia lewat Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan bertajuk “Mimbar Suci, Suara Hutan” di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut menghimpun sedikitnya 61 pendeta serta pemuka jemaat dari jaringan Gereja yang tersebar di 74 klasis Papua Barat Daya.

Baca juga: Ziarah Cammino Santa Maria Ekafalo-Lurasik Pecahkan Rekor MURI Aksi Lingkungan

Kegiatan ini bertujuan menghubungkan ayat Alkitab dengan persoalan nyata seperti deforestasi, industri ekstraktif, dan krisis iklim.
Pendeta Johan Kristiantara (PGI) membuka workshop khotbah Mimbar Suci, Suara Hutan di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026). (Foto: dok. IRI Indonesia)

Inisiatif ini ditempuh untuk mengaitkan nilai keimanan dengan aksi nyata penyelamatan hutan yang kian terancam oleh laju industri ekstraktif, alih fungsi lahan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga krisis iklim.

Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, dalam sambutannya menegaskan bahwa hutan bagi masyarakat Papua bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang kehidupan, penyedia air dan pangan, serta identitas budaya. Oleh karena itu, refleksi keagamaan di Gereja dinilai sangat krusial untuk membentengi bentang alam tersebut.

“Papua Barat Daya tanpa hutan itu tidak ada suaranya lagi. Jadi, kita harus menyampaikan kepada publik dan seluruh umat bahwa mimbar Gereja harus berbicara tentang hutan, dan mimbar iman harus berbicara tentang hutan. Jangan sampai suara hutan Papua menjadi suara kematian hutan Papua,” ujar Hening di Kota Sorong, Kamis (3/9/2026).

Langkah kolaboratif ini menegaskan peran strategis institusi keagamaan sebagai benteng moral dalam menghadapi ancaman kerusakan alam di Tanah Papua.
Berada di garda terdepan pelestarian alam, para pendeta dari 78 klasis se-Papua Barat Daya berkumpul untuk merumuskan materi khotbah bertema penyelamatan hutan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia ini digelar di Kota Sorong pada Kamis (3/9/2026). Foto: dok. IRI Indonesia

Ia mengajak para rohaniwan mulai menyusun khotbah yang adaptif dengan mengaitkan teks kitab suci pada data serta realitas lingkungan yang dihadapi jemaat sehari-hari.

Baca juga: Hemat Energi Bagian dari Agama? Ini Langkah PP Muhammadiyah

Dukungan serupa disampaikan Anggota Advisory Council IRI Indonesia dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Johan Kristiantara. Ia menekankan pentingnya institusi Gereja mengambil sikap tegas dalam merespons persoalan ekologis.

“Kita perlu bergerak dari sekadar berteologi menuju keberpihakan. Kita perlu bergerak dari sekadar berolah pikiran, dari sekadar berolah teologi, menjadi bersaksi tentang hutan,” kata Johan.

Fokus Utama: Penyusunan panduan khotbah kontekstual berbasis ekologi.
Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia melibatkan jajaran pendeta dan pimpinan jemaat di Papua Barat Daya untuk mengintegrasikan pesan iman dengan upaya penyelamatan lingkungan hidup. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan bertema “Mimbar Suci, Suara Hutan” yang diselenggarakan di Kota Sorong, Kamis (3/9/2026). Foto: dok. IRI Indonesia

Sementara itu, Perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja Papua Barat Daya, Pendeta Renhard Ohoitimur, mengingatkan bahwa dampak krisis lingkungan bersifat universal dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.

Baca juga: Gubernur Yulius Tekankan Anggaran Berorientasi pada Kesejahteraan Rakyat

“Kita semua dari Gereja, dari umat Islam, dari Katolik, Hindu, Buddha, semua kena dampaknya juga,” tutur Renhard.

Melalui pelatihan praktis ini, para peserta diajak menyusun naskah khotbah berbasis problem lokal. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membumikan semangat gerakan moral “No Forest, No Future” yang diusung IRI Indonesia dari mimbar Gereja hingga ke komunitas dan keluarga di Papua Barat Daya.*

Sumber: IRI Indonesia

1 thought on “IRI Indonesia Gandeng Pemimpin Gereja Papua Barat Daya Dorong Isu Hutan Masuk Mimbar Khotbah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *