Dr Frits Pangemanan mendapat dukungan FIRAS dan keuskupan untuk diusulkan menjadi Duta Besar RI untuk Filipina di Manila.

Dr. Frits Herman Pangemanan, M.Sc., calon Dubes RI untuk Filipina dari Manado (kiri) audiensi dengan Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (kanan) di kantor KWI Jakarta pada 7 Mei 2025. (Foto: Ist)

Spread the love

Poin Penting

  • Dukungan Diplomatik: Dr. Frits Herman Pangemanan mendapat usulan dan rekomendasi resmi dari FIRAS Sulut serta Keuskupan Manado, Amboina, dan Merauke sebagai Dubes RI untuk Filipina.
  • Rekam Jejak 20 Tahun di Manila: Memiliki latar belakang akademis yang kuat dengan meraih dua gelar doktor (Summa Cum Laude) di Filipina serta menulis puluhan buku dan menjadi tenaga ahli KBRI Manila.
  • Perjalanan Hidup Inspiratif: Memulai langkah dari pengasong koran di Bendar (Manado), berkarier sebagai jurnalis The Jakarta Post dan PBB (UNIC), hingga berkiprah di tingkat internasional.

HajarBICARA – Dr. Frits Herman Pangemanan, M.Sc., ilmuwan sosial dan jurnalis senior asal Minahasa, mendapat dukungan luas dari elemen masyarakat Sulawesi Utara serta pimpinan Gereja Katolik untuk diusulkan menjadi Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Filipina.

Dukungan resmi di antaranya mengalir dari Forum Inspirasi Rakyat Sulut (FIRAS) serta rekomendasi dari Keuskupan Manado, Keuskupan Amboina, dan Keuskupan Merauke.

Koordinator FIRAS, Ramon Wowor, menyatakan bahwa rekam jejak Frits selama lebih dari 20 tahun menetap, mengajar, dan berkarya di Manila menjadi modal krusial untuk memperkuat hubungan diplomatik, sosial, dan kebudayaan antara Indonesia dan Filipina.

“Ia pernah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post selama lima tahun dan kemudian menempuh pendidikan hingga meraih gelar magister serta dua gelar doktor di perguruan tinggi di Manila,” ujar Ramon.

Jejak Akademis dan Kiprah di Manila

Perjalanan Frits di Filipina bermula saat ia melanjutkan studi S-2 Ilmu Sosial di Asian Social Institute (ASI) Manila. Ia kemudian merengkuh gelar Doktor Sosiologi dan Antropologi dari Ateneo de Manila University (2002–2008), serta gelar Doktor Applied Cosmic Anthropology di ASI dengan predikat Summa Cum Laude.

Selama dua dekade bermukim di Manila, Frits dipercaya memimpin Pusat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Graduate Studies di ASI sejak 2020.

Ia juga menjadi tenaga ahli independen andalan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila, mengampu kuliah Studi Indonesia, serta menulis lebih dari 20 buku berbahasa Indonesia dan Inggris.

Salah satu karya pentingnya, A Short History of Indonesia: Land, People, and Society, diterbitkan kembali oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila pada 2019 dan 2024.

Latar Belakang Jurnalistik

Sebelum fokus di dunia akademik internasional, Frits memulai karier profesionalnya di Jakarta pada 1988 sebagai staf khusus Kepala United Nations Information Center (UNIC) PBB. Di sana, ia ditempa oleh jurnalis senior Jepang, Hisashi Uno, dalam penyusunan laporan riset sosial-politik.

Pada 1990, Frits menjadi salah satu dari 15 peserta yang lolos seleksi ketat pendidikan jurnalistik Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) dari total 1.000 pendaftar. Usai meraih predikat lulusan terbaik, ia berkarier sebagai jurnalis ekonomi di The Jakarta Post (1991–1996) dan meliput berbagai isu bisnis hingga ke kawasan Asia dan Eropa.

Ditempa dari Jalanan Manado

Pencapaian Frits di panggung internasional berakar dari masa kecil yang penuh keterbatasan. Lahir dari keluarga sederhana, Frits kecil pernah menjadi pengasong koran di kawasan pasar dan terminal Bendar, Manado, Sulawesi Utara.

Sepulang sekolah dari SD Frater Don Bosco Manado, ia menjajakan koran untuk membantu ekonomi keluarga sebelum melanjutkan belajar di malam hari.

Pengalaman di jalanan Manado tersebut justru menumbuhkan ketertarikannya pada dunia pers. Ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskassen, Tomohon, hingga menyelesaikan studi Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng pada 1984.

Konsistensinya dalam menulis dan meneliti terus berlanjut hingga kini.

“Saya tidak pernah akan berhenti menulis, sampai fisik dan sukmaku tak mampu lagi menggoreskan semua isi hati dan pikiranku,” tegas Frits.*
Sumber: Garuda.24jamnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *