Ketua PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), mendesak jajaran kepolisian (Polresta Malang Kota, Polda Jatim, Mabes Polri) untuk mempertimbangkan izin acara demi mencegah potensi gesekan horizontal di tengah masyarakat. (Foto: dok. Istimewa)
Poin Penting
- Rencana tabligh akbar Rizieq Shihab di Masjid As Salafiyyah, Kedungkandang, Malang, pada 31 Agustus 2026 ditolak oleh PNIB dan Aliansi Masyarakat Cinta Damai.
- Ketua PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), mendesak jajaran kepolisian (Polresta Malang Kota, Polda Jatim, Mabes Polri) untuk mempertimbangkan izin acara demi mencegah potensi gesekan horizontal di tengah masyarakat.
- Penolakan tersebut didasari oleh sikap tegas terhadap figur dan muatan yang dinilai membawa politik identitas, radikalisme, serta ancaman bagi kebhinekaan dan kerukunan antarumat beragama di Jawa Timur maupun Indonesia.
HajarBICARA – Sejumlah aliansi organisasi masyarakat di Malang Raya dan Jawa Timur, yang dimotori oleh Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), melayangkan penolakan tegas terhadap rencana kedatangan Rizieq Shihab ke Malang.
Kedatangan tersebut dijadwalkan dalam agenda tabligh akbar di Masjid As Salafiyyah, Kedungkandang, pada Senin (31/8/2026).
Ketua Pusat PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau yang akrab disapa Gus Wal, mendesak aparat kepolisian mulai dari Polresta Malang Kota, Polda Jawa Timur, hingga Mabes Polri, agar mempertimbangkan ulang pemberian izin pelaksanaan acara tersebut.
Menurutnya, langkah ini krusial demi menjaga kondusivitas keamanan serta mencegah potensi gesekan horizontal di tengah masyarakat.
“Jika sebagian besar masyarakat sudah menolak tetapi Rizieq tetap hadir maka sama halnya mengadu domba pihak-pihak yang pro kontra. Rizieq yang dapat nama dan cuan dari acara, namun dampaknya masyarakat bentrok, yang repot aparat penegak hukum juga nantinya,” ujar Gus Wal dalam keterangan resminya, Minggu (30/8/2026).
Penolakan serupa turut disuarakan oleh Aliansi Masyarakat Cinta Damai. PNIB menilai Rizieq lekat dengan politik identitas dan narasi yang dikhawatirkan dapat merusak kerukunan antarumat beragama di Jawa Timur maupun Indonesia secara luas.
“Kalau Rizieq Shihab bisa mengkafir-kafirkan sesama anak bangsa, maka kami juga berhak mengharamkan kehadiran para Da’i atau Pendakwah provokator yang sebenarnya adalah merupakan preman berjubah agama di Jawa Timur dan seluruh seantero negeri. Jangan sampai kerukunan dan kehidupan antar umat beragama di Jawa Timur dan Indonesia dirusak oleh pendakwah impor yang tidak paham tradisi bangsa,” tegas Gus Wal.
Lebih lanjut, Gus Wal menegaskan, penolakan ini ditujukan terhadap figur dan substansi yang dinilai membawa muatan perpecahan, bukan pada esensi kegiatan keagamaannya.
Pihaknya menyerukan agar masyarakat tetap berpegang pada prinsip kebangsaan serta tidak melupakan sejarah dan jasa para ulama pendiri bangsa.
“Kita tidak menolak acara Tabligh Akbar, yang kita tolak Rizieq-nya dan para Da’i Provokator lainya corong propaganda Khilafah, Terorisme, Anarkisme, radikalisme dan politik identitas yang merusak kebhinekaan, kesatuan dan persatuan anak bangsa. Masih banyak pendakwah lain yang lebih berkompeten daripada sosok pengasong terorisme, politik identitas dan para pelacur yang ingin membuat negara Indonesia berdasarkan khilafah yang sudah memecah belah rakyat dan bangsa Indonesia selama ini,” imbuh Gus Wal.
Sebagai ormas kebhinekaan lintas agama, suku, tradisi, dan budaya, PNIB aktif menyuarakan penolakan terhadap intoleransi dan radikalisme melalui berbagai kegiatan seperti kirab Merah Putih di daerah.
“Kita tetap rukun berkehidupan bangsa dan negara karena berprinsip JAS MERAH dan JAS HIJAU. Tidak melupakan sejarah dan tidak melupakan jasa para kyai ulama pendiri bangsa. Ulama impor dan berpaham ideologi import yang selama ini hanya numpang hidup di Indonesia dan menjadi pemecah belah bangsa adalah musuh ideologi kita Sampai kiamat dan akan kita tolak serta lawan sampai kapanpun jua,” pungkas Gus Wal.* (Sumber: PenaBICARA.com)
