Hajarbicara.com – Ketahanan Pangan di Papua: Mengapa Pembangunan Pertanian Harus Berbasis Masyarakat Adat?
Papua dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati.
Kondisi alamnya yang beragam, mulai dari pegunungan, hutan tropis, rawa, sungai, hingga wilayah pesisir, membuat masyarakat Papua memiliki cara tersendiri dalam menjalani kehidupan.
Sejak dulu, berbagai suku di Papua memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bertani, berburu, meramu, menangkap ikan, dan beternak bukan hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Meriah Sejak Hari Pertama! HUT ke-403 Kota Manado Resmi Dimulai di Malalayang Beach Walk
Karena itu, ketika membahas ketahanan pangan di Papua, rasanya tidak adil jika kita mengabaikan peran masyarakat adat yang selama ini telah menjaga dan mengelola sumber-sumber pangan tersebut.
Berdasarkan data BPS Provinsi Papua, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat. Bagi banyak keluarga, pertanian bukan sekadar pekerjaan, tetapi sumber penghidupan yang menentukan terpenuhi atau tidaknya kebutuhan sehari-hari.
Meski begitu, berbicara tentang ketahanan pangan Papua tidak cukup jika hanya berfokus pada angka produksi dan kontribusinya terhadap ekonomi daerah.
Di balik itu, ada sistem sosial dan budaya yang telah lama dibangun oleh masyarakat adat untuk memastikan pangan tetap tersedia bagi komunitas mereka.
Salah satu hal yang menarik dari budaya pertanian di Papua adalah adanya sistem ladang berpindah. Banyak orang mungkin melihatnya sebagai cara bertani yang kuno. Padahal, jika dipahami lebih jauh, sistem ini menunjukkan bagaimana masyarakat Papua belajar langsung dari alam.
Diplomatic Reception Filipina Digelar di Manado, Kapolresta Hadir Bersama Forkopimda
Mereka tahu bahwa tanah juga membutuhkan waktu untuk “beristirahat”. Karena itu, lahan yang sudah dipakai tidak dipaksa untuk terus menghasilkan, melainkan dibiarkan pulih terlebih dahulu sebelum digunakan kembali.
Cara berpikir seperti ini memperlihatkan bahwa menjaga alam bukan hal baru bagi masyarakat Papua, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak dulu.
Ladang bagi masyarakat Papua ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat bercocok tanam. Dari ladang itulah kebutuhan pangan keluarga dipenuhi, anak-anak belajar tentang kerja sama dan tanggung jawab, serta berbagai nilai kehidupan diwariskan.
Tidak heran jika ada anggapan bahwa masyarakat Papua hidup dan tumbuh bersama ladang mereka. Ladang bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga identitas dan keberlangsungan budaya.
Perkuat Hubungan Internasional, Wali Kota Manado AA Hadiri Freedom 250
Selain bertani, masyarakat Papua juga memiliki mata pencaharian yang beragam, menyesuaikan dengan kondisi alam tempat mereka tinggal.
Masyarakat di wilayah pegunungan banyak mengandalkan ubi jalar, talas, dan berbagai tanaman pangan lainnya. Sementara itu, masyarakat pesisir menggantungkan hidup pada hasil laut, sedangkan mereka yang tinggal di kawasan hutan masih memanfaatkan hasil hutan, berburu, dan meramu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keragaman ini justru menjadi kekuatan karena masyarakat tidak bergantung pada satu sumber pangan saja.
Papua juga dianugerahi kekayaan hayati yang melimpah. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan dimanfaatkan sebagai sumber pangan oleh masyarakat setempat.
Sagu menjadi makanan pokok di sejumlah daerah pesisir, sedangkan ubi jalar memegang peran penting bagi masyarakat pegunungan.
Pisang, keladi, ikan, serta berbagai hasil hutan lainnya turut melengkapi kebutuhan pangan sehari-hari. Karena itulah, alam Papua sering dipandang sebagai lumbung alam bagi masyarakat suku yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup mereka.
Menariknya, sebagian besar kebutuhan dasar masyarakat pada masa lalu dipenuhi dari lingkungan sekitar. Makanan diperoleh dari kebun, sungai, laut, dan hutan. Rumah pun dibangun menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam.
Pola hidup seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki tingkat kemandirian yang cukup tinggi. Mereka terbiasa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya tanpa bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar.
Kemampuan tersebut tentu tidak hadir begitu saja. Ada kearifan lokal yang menjadi pegangan dalam mengelola alam. Masyarakat adat memiliki aturan tentang kapan membuka lahan, bagaimana memanfaatkan hasil hutan, hingga batasan dalam berburu.
Aturan-aturan itu dibuat agar alam tidak dieksploitasi secara berlebihan. Dengan kata lain, menjaga lingkungan sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua jauh sebelum istilah pelestarian lingkungan dikenal luas seperti sekarang.
Kesadaran untuk melestarikan alam lahir dari pemahaman bahwa manusia dan lingkungan saling bergantung satu sama lain. Jika hutan rusak atau sumber daya alam habis, maka masyarakat juga akan kehilangan sumber penghidupannya.
Karena itu, berbagai aturan adat hadir untuk menjaga keseimbangan tersebut. Nilai-nilai inilah yang menunjukkan bahwa masyarakat adat telah lama menerapkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan masyarakat Papua, beternak babi juga memiliki arti yang penting. Babi bukan hanya dipelihara untuk dikonsumsi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya.
Kepemilikan babi sering dianggap sebagai tanda kesejahteraan keluarga. Dalam berbagai upacara adat, babi digunakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol kebersamaan.
Babi juga berperan dalam pelaksanaan denda adat. Ketika terjadi konflik atau pelanggaran adat, penyelesaiannya sering dilakukan melalui pemberian babi sebagai bentuk ganti rugi.
Tujuannya bukan hanya menyelesaikan persoalan, tetapi juga memulihkan hubungan sosial agar kehidupan masyarakat kembali harmonis. Dari sini terlihat bahwa pangan, ekonomi, dan budaya saling berkaitan erat dalam kehidupan masyarakat Papua.
Di beberapa daerah, masyarakat masih mengenal berbagai kepercayaan tradisional, salah satunya mengenai suanggi. Terlepas dari bagaimana setiap orang memandang kepercayaan tersebut, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki cara pandang sendiri dalam memahami kehidupan.
Karena itu, pembangunan di Papua seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga memahami nilai dan keyakinan yang hidup di tengah masyarakat.
Contoh nyata dapat dilihat pada masyarakat Arfak yang masih mempertahankan berbagai aturan adat dalam mengelola sumber daya alam.
Pengetahuan lokal yang mereka miliki membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Pengalaman masyarakat Arfak membuktikan bahwa masyarakat adat memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya secara berkelanjutan sekaligus menjaga ketahanan pangan komunitasnya.
Di sisi lain, perkembangan zaman membawa teknologi modern masuk ke Papua. Berbagai inovasi pertanian diperkenalkan untuk meningkatkan hasil produksi dan mempermudah pekerjaan. Kehadiran teknologi tentu membuka peluang baru bagi pembangunan pertanian.
Namun, pembangunan yang hanya berfokus pada pendekatan teknis sering kali kurang memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Padahal, teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, bukan memaksa mereka meninggalkan sistem yang selama ini telah mereka pahami.
Tantangan pembangunan pertanian di Papua saat ini adalah bagaimana memadukan teknologi modern dengan pengetahuan lokal yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Inovasi memang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat agar tidak menghilangkan nilai-nilai yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat adat.
Pada akhirnya, ketahanan pangan di Papua tidak hanya berbicara tentang meningkatkan hasil panen atau mengejar angka produksi.
Ketahanan pangan juga berkaitan dengan kemampuan menjaga hubungan yang seimbang antara manusia, budaya, dan alam.
Sistem ladang berpindah, kekayaan hayati, lumbung alam masyarakat suku, kearifan lokal, serta nilai-nilai budaya yang masih hidup hingga sekarang telah menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan pangan masyarakat Papua.
Karena itu, pembangunan pertanian di Papua seharusnya menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, bukan sekadar penerima program.
Dengan cara itulah ketahanan pangan dapat diperkuat tanpa harus mengorbankan identitas budaya yang telah menjaga kehidupan masyarakat Papua selama bergenerasi.
Oleh: Fitria Novianti
Mahasiswi Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
